“Habiskan
makanannya, Nila…”
Bapak sudah duduk di sampingku.
Membelai rambutku yang masih basah setelah lelah bermain hujan. Aku menoleh
sekilas padanya, lalu memalingkan muka ke arah jendela kamar.
“Kalau makanannya habis, besok
kita makan apa lagi, Pak?” kupandangi pantulan wajahnya dari kaca jendela.
Bapak tersenyum tipis, masih membelai rambutku.
Bapak menyentuh piring di atas
pangkuannya lalu menyendokkan sekali lagi untukku. “Makanan ini adalah berkah
dari Tuhan. Kalau hari ini kita punya makanan, besok pasti kita bisa makan
seperti ini lagi.”
Aku hanya tersenyum dan menerima
suapan terakhir darinya. Kupandangi sekali lagi wajahnya yang teduh. Rambutnya
yang mulai ditumbuhi uban di beberapa bagian. Kerutan di dahi dan di sudut matanya
sudah menandakan usianya yang tak lagi muda. Meski hidupku tak sama dengan
perempuan beruntung di luar sana, tapi aku bahagia masih memiliki Bapak. Lelaki
terhebat selain suamiku yang pernah kumiliki.
Sejak menikah satu tahun silam,
Bapak adalah satu-satunya orang yang berbahagia atas pernikahanku. Beliaulah
yang mengajariku cara memperlakukan suami sebagaimana mestinya. Meskipun aku
tahu, Bapak menyimpan sebuah luka yang masih tertancap di hatinya. Beliau
adalah pemain opera kehidupan yang paling juara. Mampu menyembunyikan rasa
sakit dengan senyuman. Hanya senyuman yang membuatnya kuat.
“Suamimu sudah ada kabar, Nak?”
Pertanyaan Bapak kujawab dengan
gelengan. Aku tidak bisa memastikan kapan suamiku kembali. Dan kapan aku bisa
menerima, jika apa yang terjadi padaku adalah sebuah kesialan.
“Kalau dia mau kembali, dia pasti
sudah pulang dari jauh hari, Pak. Suami macam apa yang meninggalkan istrinya
tanpa kabar. Apa karena aku cacat, jadi dia malu punya istri kayak aku?”
Bapak terkejut dengan ucapanku.
Beliau kembali duduk di tepi ranjang setelah membereskan sisa makananku ke atas
meja.
“Masmu itu kan pergi buat cari
kerja. Mungkin dia lagi sibuk, jadi lupa ngabarin kamu.” Bapak masih saja
membelanya.
Apa yang harus kulakukan sebagai
istri yang ditinggalkan suaminya selama berbulan-bulan? Airmataku tidak cukup
ampuh untuk membuatnya kembali. Kakiku tidak akan cukup kuat untuk mengejarnya.
Mengandalkan Bapak sebagai kaki kananku saja sudah cukup membuat beliau repot
mengurusiku. Pekerjaannya sebagai seorang buruh bangunan pun tak cukup untuk
menghidupi keluarga kecil kami. Selama ini hanya Bapak yang menghidupiku, baik
sejak kecil hingga ditinggal oleh suami sendiri. Bapak yang rela menampungku
kembali di rumah kecilnya setelah rumah yang pernah kutempati bersama suamiku
dulu, habis terjual untuk biaya operasiku. Dan pada akhirnya, kakiku tidak akan
pernah kembali seperti dulu lagi. Aku lumpuh setelah kecelakaan naas yang
menimpaku lima bulan yang lalu.
“Surga seorang istri berada di
bawah telapak kaki suaminya. Doakan dia biar bisa cepat kembali dan membawamu
pergi dari rumah kumuh ini.” Bapak mengecup keningku kemudian berlalu
meninggalkanku seorang diri di dalam kamar. Ucapan beliau membuatku terenyuh
dan merasa malu padanya. Bagaimana bisa seorang suami yang ditinggal istrinya
mampu berkata seperti itu pada anaknya. Anak perempuannya yang nyaris bernasib
sama dengannya.
***
Kokok
ayam menyambutku pagi ini. Bapak sudah siap dengan perlengkapan kerjanya. Jaket
kuning kumal dikenakannya dengan bangga. Sekotak perkakas yang biasa ia bawa
sudah sedia di atas meja. Tinggal topi kebesarannya untuk menutupi beberapa
uban di kepala sekaligus teriknya matahari di luar sana yang belum ia kenakan.
Bapak mondar-mandir di ruang tamu mencari topinya. Kepalanya naik turun
mengelilingi setiap inci rumah yang tidak besar ini. Meski rumah Bapak masih
beralas dipan dan dinding kayu, rumah ini masih terasa nyaman buatku.
Setidaknya di rumah inilah aku tumbuh menjadi pribadi yang tak lupa bersyukur
setiap hari. Di rumah ini pula aku kehilangan masa kecilku.
Ibuku
pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan kami berdua di tengah dinginnya udara
malam. Alasannya hanya satu. Ia tidak kuat lagi hidup di bawah tekanan
kemiskinan. Ia tidak mau memiliki suami yang kerjanya hanya mengaduk semen dan
mengangkat besi. Ia malu punya anak yang tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan
ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang setiap harinya. Kami perlu makan
untuk melanjutkan hidup. Juga uang untuk bisa mendapatkan makanan. Itulah yang
ada dipikiran Ibu saat ia memilih untuk meninggalkan kami dan lebih memilih
hidup seorang diri untuk keperluan hidupnya sendiri.
Sejak
kepergian Ibu, hidup Bapak tidak lagi sama. Beliau bekerja lebih keras dari
biasanya. Berangkat pagi dan pulang larut setiap harinya. Biasanya Bapak akan
pulang menjelang maghrib sambil menunggu Ibu menyiapkan makanan dan setelah itu
kami shalat berjamaah. Bapak selalu menyuguhkan cerita tauladan atau cerita
kesehariannya yang tak jauh-jauh dari semen dan besi. Beliau selalu merasa
bangga menceritakan kisahnya pada kami. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya
adalah kebanggaan tersendiri buatnya. Ia bangga bisa bekerja meski hasilnya
tidak akan sama dengan setiap tetes keringat yang ia keluarkan. Jauh dari itu,
aku bangga menjadi anak Bapak. Sayangnya, Ibu tidak sependapat denganku.
“Nila,
kamu liat topi Bapak nggak?” suara seraknya membuyarkanku dari lamunan. Bapak
masih sibuk mencari topinya.
Kularikan
mataku ikut mencari. Kurang dari tiga menit topi itu berhasil kutemukan di antara
pakaian kerjanya yang tergantung di sudut ruangan. Bapak tersenyum setelah
mengambil topinya, lalu berlutut di depanku dan menjawil hidungku dengan
tatapan geli. Tanpa aba-aba aku sudah bersin tepat di depan wajahnya.
“Maaf,
Pak. Nila nggak sengaja…” ujarku padanya.
“Bukannya
Alhamdulillah, malah minta maaf.” Bapak tersenyum lagi sambil membersihkan
wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya.
“Lho,
kan aku bersin di depan muka Bapak. Kan nggak sopan dong, Pak.” Protesku yang
malah ditanggapi gelengan kepala olehnya.
“Memangnya
bersin harus direncanakan dimana tempatnya? Eh, kamu sakit Nila?”
Suhu
tubuhku memang sedikit hangat dan sejak subuh tadi kepalaku terasa berat
ditambah hidungku yang sepertinya tersumbat. Mungkin ini efek dari hujan
kemarin sore.
“Cuma
agak anget dikit, Pak. Sebentar lagi juga sembuh,” jawabku setenang mungkin.
Bapak
mendekat dan meletakkan punggung tangannya di keningku. “Ini mah bukan anget
lagi, Nila. Kamu ini demam.” Suaranya terdengar khawatir.
Kutepis
pelan tangannya dan tersenyum. “Nila baik-baik aja, Pak. Istirahat sebentar,
nanti baikan lagi, kok.”
“Kamu
yakin? Atau Bapak nggak usah kerja dulu hari ini?” tawarnya padaku. Aku
menggeleng dan meyakinkannya sekali lagi. Sudah cukup kubiarkan beliau menanggung
semua bebanku.
“Kalau
Bapak nggak kerja hari ini, kita mau makan apa?” kubelai wajahnya yang tua itu.
Bukan maksudku untuk melukai perasaannya. Aku hanya ingin ia tidak terlalu
memikirkan keadaanku.
Bapak
selalu seperti itu. Cintanya pada keluarga adalah hal yang paling penting
untuknya. Ia rela melakukan apapun demi membahagiakan kami. Membuat kami nyaman
dan bisa hidup tenang tanpa memikirkan pengorbanan yang ia lakukan setiap
harinya. Sayangnya, pengorbanan Bapak tidak cukup kuat untuk mempertahankan Ibu
tetap di sisinya. Bahkan kasih sayangnya tidak akan cukup jika dibandingkan
dengan uang. Uang bisa di cari, tapi kebahagiaan dan cinta sulit ditemukan pada
mereka yang tidak punya rasa syukur. Uang tidak akan mampu membeli kasih sayang
yang diberikan Bapak padaku. Aku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya.
Bapak
menyampirkan poniku ke belakang telinga dan berujar lirih, “Nila, selalu
ingatkan Bapak kalau lagi lupa, ya. Bapak janji akan membuatmu nyaman sampai
suamimu kembali dan membawamu pergi.”
Hatiku
rasanya teriris. Pedih dan sedih kembali membuatku meneteskan airmata. Aku lupa
bahwa aku memiliki malaikat di rumah ini. Malaikat yang sedang tersenyum sambil
menyeka airmataku yang berjatuhan. Ah, Bapak.
“Nila
nggak akan kemana-mana, Pak. Nila akan selalu di sini sama Bapak. Jadi, Bapak
harus kerja keras lagi untuk menghidupi anakmu yang tidak bisa berbuat apa-apa
ini.” Aku malu pada Bapak.
“Iya,
Bapak akan kerja sampai tidak kuat lagi. Selagi masih kuat, Alhamdulillah Bapak
masih bisa kerja.” Bapak meraih lenganku dan membantuku berdiri dengan tongkat.
“Bapak antar ke kamar ya, biar kamu bisa istirahat. Siang nanti Bapak bawakan
obat sama makanan.”
Andai
Bapak tahu, Bapak adalah obat penawar rasa sakitku. Aku yang seharusnya membahagiakanmu,
Pak. Aku yang seharusnya bekerja untukmu. Aku yang seharusnya menjagamu di
waktu senjamu ini. Aku, Bapak. Anakmu yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Bapak
pamit padaku setelah mengantarku ke kamar. Ia mengecup keningku sekali dan
berdoa untukku. “Semoga Allah merahmatimu.”
***
Bapak
pulang sebelum petang. Pakaiannya basah akibat terkena rembesan air hujan di
pinggir jalan tadi saat menuju rumah. Sepatunya juga kotor dipenuhi lumpur
merah. Jejak sepatunya berbekas di atas dipan. Aku mengamati beliau melepas
sepatunya. Sekilas ia terlihat tersenyum sambil memandangi jejak sepatunya.
“Bapak
kenapa?” tanyaku padanya setelah meletakkan segelas kopi panas untuknya di atas
meja.
Beliau
berdiri dan membantuku untuk duduk di sampingnya.
“Bapak
jadi ingat Ibu,” jawabnya padaku dengan pandangan menerawang. “Biasanya kalau
Bapak pulang dalam keadaan basah dan sepatu Bapak mengotori lantai, ibumu pasti
marah dan memaksa Bapak untuk membersihkannya. Setelah itu Bapak akan
memeluknya dan meminta maaf padanya.”
“Bapak
kangen sama Ibu?”
Bapak
menatapku sebentar, lalu mengangguk pasti di depanku. “Terkadang, Bapak selalu
berpikir untuk membawa ibumu pulang. Tapi, tidak cukup berani untuk memintanya
pulang. Bapak belum bisa memberikan apa-apa padanya. Bapak belum bisa
membahagiakannya.”
Aku
tahu ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan padaku. Sesuatu yang selama ini ia
pendam dalam diam. Ada kerinduan yang terpancar dari matanya. Juga ada luka
yang tak kasat mata. Bapak yang selalu tersenyum meski sedang berduka.
“Nila,
kamu jangan pernah meninggalkan suamimu. Hormat dan taatlah padanya. Karena sejatinya
surga seorang istri adalah ridho suaminya. Insya Allah, Bapak sudah ridho
melepas ibumu. Biarkanlah dia mencari kebahagiaannya sendiri. Selama ibumu
bahagia, Bapak juga ikut senang.”
Terkadang
aku selalu berpikir mengapa Ibu tega meninggalkan Bapak. Secara finansial,
Bapak memang tidak punya cukup uang untuk menghidupi keluarga kecil kami. Hidup
sederhana sejak kecil telah mengajariku banyak hal, bahwa kebahagiaan tidak
bisa dibeli oleh uang. Pun dengan cinta Bapak yang lebih berharga dibanding
apapun di dunia ini. Ibu, bisakah engkau kembali dan melihat betapa besar
cintanya Bapak padamu?
Tanpa
sadar airmataku kembali menetes dan menjatuhi punggung tangannya. Bapak
menyekanya cepat, lantas mencium keningku dan memelukku. Bapak, andai aku bisa
setegar dirimu.
“Pak…”
seruku sambil terisak. “Apa definisi cinta bagi Bapak?”
“Cinta
itu ketulusan. Selama kita mencintai dengan tulus, semua akan terasa lebih
indah.” Bapak membelai rambutku.
“Jika
cinta adalah ketulusan, kenapa Ibu tetap meninggalkan kita dan lebih mengejar
harta dunia?”
Sampai
saat ini aku belum menemukan alasan apapun dari Ibu, selain karena ia sudah tidak
sanggup berada di bawah tekanan kemiskinan. Setahuku, Ibu juga mencintai Bapak
di luar kekurangan dan kelebihannya. Tapi entah apa yang terjadi padanya,
hingga ia tega meninggalkan lelaki yang rela membanting tulang sepanjang hari demi
dirinya. Bapak yang tidak pernah mengeluh meskipun dalam susah sekalipun.
Bapak
ragu untuk menjawab pertanyaanku. Ia melerai pelukan kami, lalu menatap mataku
yang basah.
“Apa
Ibu tidak benar-benar mencintai Bapak? Dia hanya ingin uang dari Bapak?”
suaraku terdengar parau mengatakan hal selancang itu. Seluruh tubuhku terasa
kaku dan sulit digerakkan saat pandangan Bapak yang tajam berhasil menusuk
penglihatanku. Aku berusaha menunduk demi menghindari tatapannya.
“Cinta
Ibu sama Bapak tidak terhitung oleh materi. Dia pergi bukan karena uang, Nila. Tapi
Bapak yang tidak bisa menafkahi ibumu dengan baik. Ibumu punya alasan, dan
Bapak ikhlas menerimanya.”
Sungguh
baik hatimu, Pak.
“Jika
suatu saat Ibu kembali pada kita, apa yang akan Bapak lakukan?” pertanyaanku
kali ini terdengar lebih tegas. Aku ingin tahu apa yang Bapak lakukan jika Ibu
kembali. Mampukah beliau menerima dengan tangan terbuka atau justru berharap
Ibu tidak perlu kembali lagi.
Bapak
menarik napas panjang, lantas tersenyum tipis yang bisa kuasumsikan jika saat
ini ia sedang berpikir mencari jawaban atas pertanyaanku.
Setelah
menunggu beberapa detik, akhirnya Bapak kembali menatapku tanpa menjawab
pertanyaanku. Beliau justru menanyakan hal yang sama padaku. Apa yang akan
kulakukan jika suamiku kembali.
Kujawab
pertanyaannya dengan mantap. “Aku akan menerimanya, karena aku mencintainya.”
Bapak
tersenyum lagi dan berkata, “Jawaban Bapak sudah kamu jawab.”
--SELESAI—
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti
Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang
diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com
