Rabu, 18 November 2015

CINTA BAPAK

“Habiskan makanannya, Nila…”

Bapak sudah duduk di sampingku. Membelai rambutku yang masih basah setelah lelah bermain hujan. Aku menoleh sekilas padanya, lalu memalingkan muka ke arah jendela kamar.

“Kalau makanannya habis, besok kita makan apa lagi, Pak?” kupandangi pantulan wajahnya dari kaca jendela. Bapak tersenyum tipis, masih membelai rambutku.

Bapak menyentuh piring di atas pangkuannya lalu menyendokkan sekali lagi untukku. “Makanan ini adalah berkah dari Tuhan. Kalau hari ini kita punya makanan, besok pasti kita bisa makan seperti ini lagi.”

Aku hanya tersenyum dan menerima suapan terakhir darinya. Kupandangi sekali lagi wajahnya yang teduh. Rambutnya yang mulai ditumbuhi uban di beberapa bagian. Kerutan di dahi dan di sudut matanya sudah menandakan usianya yang tak lagi muda. Meski hidupku tak sama dengan perempuan beruntung di luar sana, tapi aku bahagia masih memiliki Bapak. Lelaki terhebat selain suamiku yang pernah kumiliki.

Sejak menikah satu tahun silam, Bapak adalah satu-satunya orang yang berbahagia atas pernikahanku. Beliaulah yang mengajariku cara memperlakukan suami sebagaimana mestinya. Meskipun aku tahu, Bapak menyimpan sebuah luka yang masih tertancap di hatinya. Beliau adalah pemain opera kehidupan yang paling juara. Mampu menyembunyikan rasa sakit dengan senyuman. Hanya senyuman yang membuatnya kuat.

“Suamimu sudah ada kabar, Nak?”

Pertanyaan Bapak kujawab dengan gelengan. Aku tidak bisa memastikan kapan suamiku kembali. Dan kapan aku bisa menerima, jika apa yang terjadi padaku adalah sebuah kesialan.

“Kalau dia mau kembali, dia pasti sudah pulang dari jauh hari, Pak. Suami macam apa yang meninggalkan istrinya tanpa kabar. Apa karena aku cacat, jadi dia malu punya istri kayak aku?”
Bapak terkejut dengan ucapanku. Beliau kembali duduk di tepi ranjang setelah membereskan sisa makananku ke atas meja.

“Masmu itu kan pergi buat cari kerja. Mungkin dia lagi sibuk, jadi lupa ngabarin kamu.” Bapak masih saja membelanya.

Apa yang harus kulakukan sebagai istri yang ditinggalkan suaminya selama berbulan-bulan? Airmataku tidak cukup ampuh untuk membuatnya kembali. Kakiku tidak akan cukup kuat untuk mengejarnya. Mengandalkan Bapak sebagai kaki kananku saja sudah cukup membuat beliau repot mengurusiku. Pekerjaannya sebagai seorang buruh bangunan pun tak cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami. Selama ini hanya Bapak yang menghidupiku, baik sejak kecil hingga ditinggal oleh suami sendiri. Bapak yang rela menampungku kembali di rumah kecilnya setelah rumah yang pernah kutempati bersama suamiku dulu, habis terjual untuk biaya operasiku. Dan pada akhirnya, kakiku tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Aku lumpuh setelah kecelakaan naas yang menimpaku lima bulan yang lalu.

“Surga seorang istri berada di bawah telapak kaki suaminya. Doakan dia biar bisa cepat kembali dan membawamu pergi dari rumah kumuh ini.” Bapak mengecup keningku kemudian berlalu meninggalkanku seorang diri di dalam kamar. Ucapan beliau membuatku terenyuh dan merasa malu padanya. Bagaimana bisa seorang suami yang ditinggal istrinya mampu berkata seperti itu pada anaknya. Anak perempuannya yang nyaris bernasib sama dengannya.

***

Kokok ayam menyambutku pagi ini. Bapak sudah siap dengan perlengkapan kerjanya. Jaket kuning kumal dikenakannya dengan bangga. Sekotak perkakas yang biasa ia bawa sudah sedia di atas meja. Tinggal topi kebesarannya untuk menutupi beberapa uban di kepala sekaligus teriknya matahari di luar sana yang belum ia kenakan. Bapak mondar-mandir di ruang tamu mencari topinya. Kepalanya naik turun mengelilingi setiap inci rumah yang tidak besar ini. Meski rumah Bapak masih beralas dipan dan dinding kayu, rumah ini masih terasa nyaman buatku. Setidaknya di rumah inilah aku tumbuh menjadi pribadi yang tak lupa bersyukur setiap hari. Di rumah ini pula aku kehilangan masa kecilku.

Ibuku pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan kami berdua di tengah dinginnya udara malam. Alasannya hanya satu. Ia tidak kuat lagi hidup di bawah tekanan kemiskinan. Ia tidak mau memiliki suami yang kerjanya hanya mengaduk semen dan mengangkat besi. Ia malu punya anak yang tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang setiap harinya. Kami perlu makan untuk melanjutkan hidup. Juga uang untuk bisa mendapatkan makanan. Itulah yang ada dipikiran Ibu saat ia memilih untuk meninggalkan kami dan lebih memilih hidup seorang diri untuk keperluan hidupnya sendiri.

Sejak kepergian Ibu, hidup Bapak tidak lagi sama. Beliau bekerja lebih keras dari biasanya. Berangkat pagi dan pulang larut setiap harinya. Biasanya Bapak akan pulang menjelang maghrib sambil menunggu Ibu menyiapkan makanan dan setelah itu kami shalat berjamaah. Bapak selalu menyuguhkan cerita tauladan atau cerita kesehariannya yang tak jauh-jauh dari semen dan besi. Beliau selalu merasa bangga menceritakan kisahnya pada kami. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya adalah kebanggaan tersendiri buatnya. Ia bangga bisa bekerja meski hasilnya tidak akan sama dengan setiap tetes keringat yang ia keluarkan. Jauh dari itu, aku bangga menjadi anak Bapak. Sayangnya, Ibu tidak sependapat denganku.

“Nila, kamu liat topi Bapak nggak?” suara seraknya membuyarkanku dari lamunan. Bapak masih sibuk mencari topinya.

Kularikan mataku ikut mencari. Kurang dari tiga menit topi itu berhasil kutemukan di antara pakaian kerjanya yang tergantung di sudut ruangan. Bapak tersenyum setelah mengambil topinya, lalu berlutut di depanku dan menjawil hidungku dengan tatapan geli. Tanpa aba-aba aku sudah bersin tepat di depan wajahnya.

“Maaf, Pak. Nila nggak sengaja…” ujarku padanya.

“Bukannya Alhamdulillah, malah minta maaf.” Bapak tersenyum lagi sambil membersihkan wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya.

“Lho, kan aku bersin di depan muka Bapak. Kan nggak sopan dong, Pak.” Protesku yang malah ditanggapi gelengan kepala olehnya.

“Memangnya bersin harus direncanakan dimana tempatnya? Eh, kamu sakit Nila?”

Suhu tubuhku memang sedikit hangat dan sejak subuh tadi kepalaku terasa berat ditambah hidungku yang sepertinya tersumbat. Mungkin ini efek dari hujan kemarin sore.

“Cuma agak anget dikit, Pak. Sebentar lagi juga sembuh,” jawabku setenang mungkin.

Bapak mendekat dan meletakkan punggung tangannya di keningku. “Ini mah bukan anget lagi, Nila. Kamu ini demam.” Suaranya terdengar khawatir.

Kutepis pelan tangannya dan tersenyum. “Nila baik-baik aja, Pak. Istirahat sebentar, nanti baikan lagi, kok.”

“Kamu yakin? Atau Bapak nggak usah kerja dulu hari ini?” tawarnya padaku. Aku menggeleng dan meyakinkannya sekali lagi. Sudah cukup kubiarkan beliau menanggung semua bebanku.

“Kalau Bapak nggak kerja hari ini, kita mau makan apa?” kubelai wajahnya yang tua itu. Bukan maksudku untuk melukai perasaannya. Aku hanya ingin ia tidak terlalu memikirkan keadaanku.

Bapak selalu seperti itu. Cintanya pada keluarga adalah hal yang paling penting untuknya. Ia rela melakukan apapun demi membahagiakan kami. Membuat kami nyaman dan bisa hidup tenang tanpa memikirkan pengorbanan yang ia lakukan setiap harinya. Sayangnya, pengorbanan Bapak tidak cukup kuat untuk mempertahankan Ibu tetap di sisinya. Bahkan kasih sayangnya tidak akan cukup jika dibandingkan dengan uang. Uang bisa di cari, tapi kebahagiaan dan cinta sulit ditemukan pada mereka yang tidak punya rasa syukur. Uang tidak akan mampu membeli kasih sayang yang diberikan Bapak padaku. Aku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya.

Bapak menyampirkan poniku ke belakang telinga dan berujar lirih, “Nila, selalu ingatkan Bapak kalau lagi lupa, ya. Bapak janji akan membuatmu nyaman sampai suamimu kembali dan membawamu pergi.”

Hatiku rasanya teriris. Pedih dan sedih kembali membuatku meneteskan airmata. Aku lupa bahwa aku memiliki malaikat di rumah ini. Malaikat yang sedang tersenyum sambil menyeka airmataku yang berjatuhan. Ah, Bapak.

“Nila nggak akan kemana-mana, Pak. Nila akan selalu di sini sama Bapak. Jadi, Bapak harus kerja keras lagi untuk menghidupi anakmu yang tidak bisa berbuat apa-apa ini.” Aku malu pada Bapak.

“Iya, Bapak akan kerja sampai tidak kuat lagi. Selagi masih kuat, Alhamdulillah Bapak masih bisa kerja.” Bapak meraih lenganku dan membantuku berdiri dengan tongkat. “Bapak antar ke kamar ya, biar kamu bisa istirahat. Siang nanti Bapak bawakan obat sama makanan.”

Andai Bapak tahu, Bapak adalah obat penawar rasa sakitku. Aku yang seharusnya membahagiakanmu, Pak. Aku yang seharusnya bekerja untukmu. Aku yang seharusnya menjagamu di waktu senjamu ini. Aku, Bapak. Anakmu yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Bapak pamit padaku setelah mengantarku ke kamar. Ia mengecup keningku sekali dan berdoa untukku. “Semoga Allah merahmatimu.”

***

Bapak pulang sebelum petang. Pakaiannya basah akibat terkena rembesan air hujan di pinggir jalan tadi saat menuju rumah. Sepatunya juga kotor dipenuhi lumpur merah. Jejak sepatunya berbekas di atas dipan. Aku mengamati beliau melepas sepatunya. Sekilas ia terlihat tersenyum sambil memandangi jejak sepatunya.

“Bapak kenapa?” tanyaku padanya setelah meletakkan segelas kopi panas untuknya di atas meja.

Beliau berdiri dan membantuku untuk duduk di sampingnya.

“Bapak jadi ingat Ibu,” jawabnya padaku dengan pandangan menerawang. “Biasanya kalau Bapak pulang dalam keadaan basah dan sepatu Bapak mengotori lantai, ibumu pasti marah dan memaksa Bapak untuk membersihkannya. Setelah itu Bapak akan memeluknya dan meminta maaf padanya.”

“Bapak kangen sama Ibu?”

Bapak menatapku sebentar, lalu mengangguk pasti di depanku. “Terkadang, Bapak selalu berpikir untuk membawa ibumu pulang. Tapi, tidak cukup berani untuk memintanya pulang. Bapak belum bisa memberikan apa-apa padanya. Bapak belum bisa membahagiakannya.”

Aku tahu ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan padaku. Sesuatu yang selama ini ia pendam dalam diam. Ada kerinduan yang terpancar dari matanya. Juga ada luka yang tak kasat mata. Bapak yang selalu tersenyum meski sedang berduka.

“Nila, kamu jangan pernah meninggalkan suamimu. Hormat dan taatlah padanya. Karena sejatinya surga seorang istri adalah ridho suaminya. Insya Allah, Bapak sudah ridho melepas ibumu. Biarkanlah dia mencari kebahagiaannya sendiri. Selama ibumu bahagia, Bapak juga ikut senang.”

Terkadang aku selalu berpikir mengapa Ibu tega meninggalkan Bapak. Secara finansial, Bapak memang tidak punya cukup uang untuk menghidupi keluarga kecil kami. Hidup sederhana sejak kecil telah mengajariku banyak hal, bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli oleh uang. Pun dengan cinta Bapak yang lebih berharga dibanding apapun di dunia ini. Ibu, bisakah engkau kembali dan melihat betapa besar cintanya Bapak padamu?

Tanpa sadar airmataku kembali menetes dan menjatuhi punggung tangannya. Bapak menyekanya cepat, lantas mencium keningku dan memelukku. Bapak, andai aku bisa setegar dirimu.

“Pak…” seruku sambil terisak. “Apa definisi cinta bagi Bapak?”

“Cinta itu ketulusan. Selama kita mencintai dengan tulus, semua akan terasa lebih indah.” Bapak membelai rambutku.

“Jika cinta adalah ketulusan, kenapa Ibu tetap meninggalkan kita dan lebih mengejar harta dunia?”

Sampai saat ini aku belum menemukan alasan apapun dari Ibu, selain karena ia sudah tidak sanggup berada di bawah tekanan kemiskinan. Setahuku, Ibu juga mencintai Bapak di luar kekurangan dan kelebihannya. Tapi entah apa yang terjadi padanya, hingga ia tega meninggalkan lelaki yang rela membanting tulang sepanjang hari demi dirinya. Bapak yang tidak pernah mengeluh meskipun dalam susah sekalipun.

Bapak ragu untuk menjawab pertanyaanku. Ia melerai pelukan kami, lalu menatap mataku yang basah.

“Apa Ibu tidak benar-benar mencintai Bapak? Dia hanya ingin uang dari Bapak?” suaraku terdengar parau mengatakan hal selancang itu. Seluruh tubuhku terasa kaku dan sulit digerakkan saat pandangan Bapak yang tajam berhasil menusuk penglihatanku. Aku berusaha menunduk demi menghindari tatapannya.

“Cinta Ibu sama Bapak tidak terhitung oleh materi. Dia pergi bukan karena uang, Nila. Tapi Bapak yang tidak bisa menafkahi ibumu dengan baik. Ibumu punya alasan, dan Bapak ikhlas menerimanya.”

Sungguh baik hatimu, Pak.

“Jika suatu saat Ibu kembali pada kita, apa yang akan Bapak lakukan?” pertanyaanku kali ini terdengar lebih tegas. Aku ingin tahu apa yang Bapak lakukan jika Ibu kembali. Mampukah beliau menerima dengan tangan terbuka atau justru berharap Ibu tidak perlu kembali lagi.

Bapak menarik napas panjang, lantas tersenyum tipis yang bisa kuasumsikan jika saat ini ia sedang berpikir mencari jawaban atas pertanyaanku.

Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya Bapak kembali menatapku tanpa menjawab pertanyaanku. Beliau justru menanyakan hal yang sama padaku. Apa yang akan kulakukan jika suamiku kembali.

Kujawab pertanyaannya dengan mantap. “Aku akan menerimanya, karena aku mencintainya.”

Bapak tersenyum lagi dan berkata, “Jawaban Bapak sudah kamu jawab.”

--SELESAI—

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com