Senin, 14 Maret 2016

Maaf, Aku Terlambat

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…”

Suara operator kembali menyambutku dipanggilan ke tiga belas kalinya. Aku mendesah berat mengamati ponselku dan beberapa orang yang menatapku dengan tatapan aneh. Beberapa di antara mereka ada yang saling berbisik lalu cekikikan sambil melirik ke arahku. Mungkin aku memang terlihat aneh dengan ponsel yang tak hentinya kutatap dengan kaki yang tidak berhenti bergerak. Aku seperti berada di tempat yang tidak seharusnya kudatangi. Seperti orang bodoh. Aku menunggunya kurang dari setengah jam yang lalu.

Masih ada waktu lima belas menit lagi. Dan pintu kaca di samping kananku belum juga menandakan kedatangannya. Setiap menit aku berharap, semoga ia lekas datang dengan senyum yang sudah lama tak pernah kulihat itu. Aku masih menunggunya. Masih sama dengan satu tahun yang lalu. Di tempat yang sama. Film yang sama. Juga perasaan yang masih sama. Dan dia selalu terlambat. Sama terlambatnya dengan apa yang kurasakan padanya.

Kembali kutatap layar ponselku. Kutekan tuts dan berharap panggilan kali ini tersambung. Kali ini aktif, tapi tidak diangkat.  Ya Tuhan, aku bisa gila menunggunya.

Lima menit lagi. Suara operator bioskop kembali terdengar untuk mengingatkan pengunjung yang belum memasuki teater. Aku semakin tidak bisa diam, dan memutuskan untuk berdiri dan pergi. Tepat saat itu juga, ia muncul dari balik pintu kaca itu dengan jaket hijau muda sambil melempar pandangannya mencariku. Akhirnya dia datang juga.

“Filmnya udah mau dimulai, ya?” tanyanya saat aku menghampirinya dan gemas ingin menarik lengannya. Sayangnya, aku cukup tahu diri.

“Kita hampir telat.” Jawabku sambil menuju pintu teater dengannya.

Sekilas ia melirik jam tangannya lalu berujar, “Iya, ya, sisa tiga menit lagi…” ia sempat tersenyum sambil menyerahkan karcis pada wanita berpakaian hitam di depan pintu.

“Capek banget nih, abis lari…” serunya saat ia sudah duduk di sampingku. Bertepatan dengan lampu bioskop yang dipadamkan, lalu memunculkan wajah Jennifer Lawrence di layar.

Aku menoleh padanya. “Kenapa lari?”

“Takut ketinggalan filmnya. Tadi sempetin salat maghrib dulu di rumah…” bisiknya dengan suara sepelan mungkin.

Fokusku yang tadinya ke film, kini beralih penuh padanya. Aku teringat dengan pertemuan terakhir kami di tempat ini juga. Satu tahun yang lalu, saat ia dengan cueknya berdiri di depanku tanpa rasa bersalah sekalipun sudah membuatku menunggunya hampir dua jam. Ia duduk di sampingku, lalu mengulurkan karcis yang sudah dibelinya dan menyerahkannya padaku.

“Sori, telat. Eh, filmnya bentar lagi kan? Masih ada waktu nggak, ya, buat salat maghrib dulu?”

Yang aku tahu tentang dia adalah ketaatannya pada Tuhan. Mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Ia yang tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ibadah. Bertemu dengan Tuhan dalam doa dan sujudnya. Aku malu padanya. Aku yang selalu lupa berdoa pada Tuhan, bersujud di hadapan-Nya, merasakan nyamannya air wudhu membasahi wajahku. Aku yang tak sempurna dan ia yang tak pernah mempermasalahkannya. Tapi tetap selalu membuatku nyaman dengan nasihat-nasihatnya. Membimbingku agar tetap di jalan-Nya.

Terkadang aku malu padanya. Aku merasa tidak seharusnya menjadi temannya. Atau memiliki perasaan lebih padanya. Bahkan untuk membayangkannya menjadi milikku terlalu berlebihan. Aku tahu perasaan itu tidak seharusnya ada. Seharusnya aku tidak jatuh cinta.

“Hei, kok ngelamun?”

“Hah?” aku menoleh padanya, takut kalau ia tahu aku sedang memperhatikannya.

“Filmya udah mulai tuh,” katanya dengan menunjuk ke layar lebar.

Sepanjang menonton film, kami banyak diam. Sesekali ia hanya menoleh dan berbisik tentang komentarnya pada film yang sedang kami tonton ini. Aku bisa menangkap senyumnya yang samar-samar. Masih sama, hanya sedikit kurang lebar lagi.

Film berakhir cukup cepat. Terlalu cepat bagiku untuk yang baru bertemu dengannya. Sebentar lagi kami berpisah. Entah kapan akan bertemu lagi. Berada di tempat yang sama dengannya sudah cukup membuatku senang. Bertemu dan melihat wajahnya sudah cukup membuatku tenang. Aku benci saat-saat di mana aku harus merelakan sesuatu yang membuatku menunggu lama. Aku benci harus menerima bahwa perasaan ini sampai kapan pun tidak akan bisa tersampaikan. Karena yang aku tahu, sulit baginya membuka hati pada perempuan lain. Dan yang ia tahu adalah aku mencintai sahabatnya.

Berada di balik punggungnya sementara ia melangkah mantap di depanku, meyakinkan diriku sendiri, bahwa selamanya kami akan tetap seperti ini. Aku yang selalu menunggu kapan ia berbalik dan mengulurkan tangan kepadaku.

Hei, kamu, maaf atas keterlambatan perasaanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar